Archive for April, 2008

Buku Perasaan, Sebuah Awal

30 April 2008

buku hitamSaya tidak bisa mengingat semua perasaan saya, karenanya saya selalu membawa buku catatan hitam itu. Di dalamnya terdapat index mengenai subyek-subyek tertentu lengkap dengan perasaan saya terhadapnya. Ketika saya bertemu dengan orang lain saya selalu mencari namanya dalam index buku saya dan baru saya bisa kembali ingat apa yang harus saya rasakan. Seperti misal:

Jeong – ingat-ingat mengenai green curry salah bumbu
J…
J…
Kane – sedih (entah karena apa saya tidak mencatatnya)
K…
K…
K…
Lita – seperti musim dingin yang datang terlalu cepat
L…
L…
Matteo – inginnya dia bisa jadi pacar saya
M…
M…

Dan daftar akurat ini terus bertambah seiring saya bertemu banyak orang baru.

Ketika saya masih di Pasifik dulu saya tidak ingat bahwa saya sering melupakan perasaan saya terhadap orang lain. Ketika masalah ini pertama muncul saya pikir hanya karena stres dan kemudian saya mengatasinya dengan menyamaratakan semua orang dengan satu perasaan: datar. Lagian saat itu saya sibuk kerja sebagai associate writer di bawah satu advertising agency asal Jepang yang sedang berkembang pesat. Komputer di kantor dan laptop adalah pacar-pacar saya. Empat sisi dinding di kantor adalah sahabat terbaik saya. Foto-foto di dinding, poster, post-it warna-warni berisi memo, mug bertuliskan “Drinking from this mug will make you gay” hadiah dari seseorang, gelas berisi pensil-pensil, kartu pos di dinding, jar air, tumpukan kertas dokumen, buku-buku dan majalah di rak adalah teman-teman saya. Selain itu semua adalah hanya acquaintances. Tiba-tiba suatu hari, hilang semua perasaan. Orang-orang di kantor rasanya sama semua, tidak ada yang spesial. Demikian juga dengan teman-teman bekas kuliah dan sekolah. Terakhir reuni, saya sama sekali tidak tahu harus merasakan apa pada masing-masing orang itu. Bekas tim drama. Tim softball. Tim futsal. Pemandu sorak. Mantan-mantan pacar. Pacar pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Mantan teman tidur. Mantan teman curhat. Mantan musuh. Geng tukang gosip. Kelas sosial. Kelas eksak. Kelas bahasa. Bahkan pada sahabat-sahabat terdekat semasa sekolah. Karena itu saya memutuskan pindah jauh. Suatu hari saya menutup mata dan jari saya berputar di peta dunia dan berhenti menunjuk Norwegia.

Ketika saya pindah ke Skandinavia, saya pikir hal ini akan berubah. Pindah jauh dari tempat kelahiran ternyata tidak membawa kemajuan. Karena itu suatu hari saya membuat janji dengan general practitioner di kampus. Dia bilang ini mungkin hanya sementara. ‘Sementara’ standar orang sini, saya kira, karena sekarang sudah dua tahun berlalu saya melewati kehidupan di Oslo, empat tahun dijumlahkan dengan waktu di rumah, saya masih tidak punya perasaan apa-apa. Saya pun meng-update buku hitam saya dengan:

K…
Kristian Ottosen (general practitioner) – sebal
K…
K…

Fiuh. Untungnya saya masih ingat nama-nama perasaan dan bagaimana cara mengaktifkannya. Saya pernah mencoba mencari asal-usul penyakit – saya tidak begitu yakin ini penyakit, mungkin hanya gangguan dan bahkan mulai sekarang saya akan menyebutnya gangguan – ini di Google. Pertama, dengan kata kunci ‘gangguan hilang perasaan’, yang muncul pertama kali adalah: ‘2008 Maret << Fibri Aryanto’s Weblog’ mengenai ‘Otomatis, ginjal ini juga akan mengalami gangguan.’ Etc etc. saya tidak klik karena jelas nampak bukan soal hilang perasaan. Yang muncul kedua adalah: TANPA NAMA: PERSEPOLIS ATLANTIS dengan ‘Anda yang mengalami gangguan sebarang gangguan kejahatan dan sihir dari Jin syaitan dan manusia…,’ yang tidak saya klik juga, pastinya. Lalu saya ganti strategi mencari data dengan kata kunci sama menggunakan tanda kutip supaya lebih spesifik. Hasilnya:

Your search – “gangguan hilang perasaan” – did not match any documents.

Mari kita ganti-ganti kata kuncinya. Bagaimana dengan ‘lost’ ‘feeling’ ‘disorder’? Di antara WikiAnswer dengan sarannya cara memenangkan kembali hati pacar setelah dia hilang perasaan dan cintanya, The Monster Blog dengan topik perasaan tersesat dalam karir, bipolar disorder dan lain lain lain, tidak ada yang benar-benar membahas mengenai lupa akan perasaan akan orang lain. Apakah ini berarti saya hanya sendirian di dunia ini dengan hal itu? Atau mungkin saya tidak sendirian tapi orang-orang itu enggan berbagi dengan dunia sehingga tidak ada yang tahu sama sekali keberadaan hal ini.

Setelah gejolak ingin menghilangkan rasa lupa tersebut menyerang dengan dahsyat, saya kembali ke kesibukan dengan rutinitas awal. Jadi mahasiswa S2 yang baik. Ke kampus kuliah. Ke perpus mencari buku dan sesekali tetap mengerjakan tugas untuk kantor lama. Kadang mengikuti seminar mengenai isu-isu terbaru di dunia supaya bisa ngobrol lebih baik dengan mahasiswa-mahasiswi S2 lain. Minum kopi banyak-banyak. Sesekali menikmati snus dingin di bawah bibir atau merokok tapi lebih baik tidak di depan umum supaya tidak dibenci para perokok pasif. Duduk di sofa kamar berlama-lama sambil bengong menatap jendela kamar dan melihat orang lalu-lalang di taman depan gedung. Di dapur berlama-lama dengan eksperimen memasak hal-hal baru (terakhir adalah mi jamur pedas yang rasanya tidak dijamin tapi saya tetap makan). Meminjam buku-buku untuk tugas kampus tapi hanya membacanya sekilas dan membiarkannya menumpuk. Atau meminjam buku secara random. Terakhir adalah For Rushdie. Hanya seperempat terbaca dan sekarang terbengkalai di bawah buku Jake’s Thing dan On Beauty yang saya beli di loppe marked. Itu semua adalah kegiatan yang sungguh tidak membutuhkan bantuan si buku hitam. Kecuali ketika di tengah proses itu bertemu dengan seseorang tiba-tiba, saya akan buru-buru membuka buku hitam dan mencari namanya di index.

Allen – ikke spesialt
A…
Bea – ingat sensasi menjadi vegan…atau diet super keras
B…
B…
Charlotte – “be Dutch once in your life
C…
C…
C…

Dan daftar itu terus bertambah. Orang mungkin pikir saya sibuk sekali sehingga harus selalu melihat buku hitam itu, tapi yang pasti hanya saya dan kamu yang membaca ini yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya kamu. Satu-satunya yang tahu apa yang saya baca dan tulis di buku itu.

Lama kelamaan, buku ini tidak hanya menuliskan perasaaan saya mengenai seseorang, tapi lebih banyak apa yang harus dilakukan ketika bertemu seseorang itu.

Disko – jangan biarkan dia membahas soal kisah cintanya!
Donna – ingatkan dia untuk lebih optimis
Edgar – biarkan dia menyapa duluan
Emma – jangan tertawakan rambutnya yang seperti singa
Fick – be cool, so cool that it hurts!
Filip – berbaik-baiklah karena dia pernah meminjamkan kamarnya

Hidup memang semakin ramai, tapi saya tetap tidak ingat semua perasaan saya terhadap masing-masing penceria hidup berbentuk manusia. Jangan lupa, saya masih bisa tertawa bahagia. Setelah saya tertawa lepas, saya melihat orang yang membuat tertawa tersebut dan…kembali lupa apa yang harus saya rasakan terhadapnya. Kamu pikir pasti ini aneh. Saya sudah berhenti mengatai saya sendiri aneh karena sungguh, tidak ada yang aneh lagi bila kamu sudah merasakannya sendiri.

Tapi sebentar lagi kamu akan menemui seorang saingan. Seorang yang tahu juga mengenai gangguan ini, dan saya dengan (anehnya) bersukarela membaginya! Seseorang yang meninggalkan impresi terlalu kuat sampai saya ingat selalu perasaan saya terhadapnya, seseorang yang juga telah sukses membawa gangguan itu kembali. Saya mungkin akan kembali lain kali untuk menceritakan ini.

(mungkin bersambung?)

My Motor Needs Your Friction Brake

28 April 2008

Look at me, walking alone at night again
Watching people’s windows
Stealing their ways of keeping dreams
While I still can’t capture you

I wish I remember how
the clouds look like
when you say goodbyes
without letters or even going down a bomb
Probably there weren’t clouds at all
because you sweep them away
I love the clouds but you hate iffy sky

Yea thanks for the time
It actually suits me well my oh my
My motor, it surely needs your friction brake
That’s a sarcasm but would you step it for me

You have put the brake again
But why am I still shocked
Believe me. I am.?

Buku Perasaan (Post-Storms)

24 April 2008

Setelah badai malam itu, kita bertemu kembali dan saya kembali menemui satu hal yang sempat hilang sementara. Matinya perasaan saya! Saya berpikir…eh, apa yang seharusnya saya rasakan pada orang-orang ini? Maka saya mulai pembicaraan dengan normal mengenai sesuatu yang normal. Dan saya mendapat perasaan. Saya menuliskannya di buku hitam saya.

Kamu – saya tidak punya keinginan untuk bertemu lagi sekembalinya di Utara
L…
M…
N…
O…
Punk – saya tidak punya keinginan untuk bertemu lagi sekembalinya di Utara

Buku hitam saya lama-kelamaan menemui halaman-halaman terakhirnya. Hari itu matahari terik bersinar membalaskan dendam setelah awan selalu menutupnya selama berbulan-bulan. Bulan April di Ibukota Norwegia, hari pertama di musim semi. Semua orang menanggalkan jaket tebal mereka di rumah, kaca mata hitam pun menjadi apparel wajib, saya tidak ketinggalan. Rumput mulai mengijau dan orang-orang banyak tiduran di bawah terik matahari di atas rumput. Mungkin rumput sebal karena mereka pun ingin melihat matahari. Tapi saya rasa orang sudah tidak peduli perasaan rumput lagi. Sejak kapan mereka mengerti? Saya juga tidak peduli dan ikut tiduran di rumput.

Ini adalah chapter terakhir mengenai kamu. Kamu adalah perempuan pertama yang saya cintai. Saya jauh dari rumah dan saya menyalahkan musim dingin yang terlalu panjang. Kamu membuat saya cengeng. Saya tidak pernah semerana ini. Tapi kamu pun tahu, atau saya tidak tahu apa yang sebenarnya kamu tahu, bahwa ini sudah berakhir. Saya sudah tidak peduli lagi. Namamu akan berhenti menghiasi Moleskine saya. Namamu akan berhenti berada di urutan pertama daftar orang yang saya telepon. Saya sudah menghapus namamu dari hati saya dengan Tipp-ex asli buatan Jerman. Tidak akan ada lagi sarkasme. Saya kembali menjadi saya. Dan saya jadi lebih kuat.

Matahari tidak menunjukkan pertanda akan mengalah pada awan. Cahayanya terlalu kuat sehingga hanya ada setitik tiga titik gumpalan awan berserakan di langit biru. Lalu saya tertidur dan bermimpi rumput-rumput mengejar saya karena telah menghalangi cahaya matahari. Dan saya pun tersenyum dalam tidur.

Alice in the Fortunate Land

23 April 2008

AliceOnce upon a time, there was a very lucky girl living in a very unfortunate land. Her name is Alice. Well, she actually wasn’t that blessed during her childhood. In fact, Alice’s life was quite miserable compared to her peers. Suddenly -no one really knows when this happened for the first time- this luck factor came in into her life. Then during her twenties, she proved herself and showed everyone in the very unfortunate land her luck in doing anything. People might say, “there’s no such luck.” But Alice has proved it and she has given hope to people with dreams like her. Some people were also sulking. Alice didn’t care at all about them. She cared more those people with hopes and dreams.

As luck would have it, she got a chance to moved out from the very unfortunate land to a very fortunate land far far away. She felt being on top of the world. So far, that was her greatest stroke of luck. And this new land offered her much of new good fortunes!

Alas, there are too many people born under a lucky star coming to the very fortunate land. Everything favored by Alice seems ordinary to other lucky people, or to other residents of the very fortunate land. Now she’s not special anymore.

Alice is afraid. She now thinks that being here is the worse luck ever! Did she spend too much luck in a too-short time and now she’s running out of it? Whether she wants it or not, she’s preparing herself for the divine messenger to tap her from behind and say,

“Sorry dear, you’re out of luck. Now get up on your used-to-be-lucky-but-now-is-too-lazy ass and work harder. Then you’ll earn your lucky moments again.”

Paris for Sale

20 April 2008

paris for sale

Paris. Dua nomor telepon yang minta dihubungi. Dua alamat e-mail yang minta dikirimi kabar. Satu bunga mawar yang hilang di tengah jalan ketika mengejar night bus. Beberapa kenalan baru. Tiga pasang sepatu baru. Kelupaan mampir di George V untuk ambil foto stasiun metro-nya. Kehilangan dua teman dan salah satunya pernah menusuk hati dengan sengaja.

Papa dalam mimpi.

20 April 2008

PAZ22c by budgetraveller

Saya mimpi. Papa dan saya mencari Tya kemana-mana sepulang dia sekolah naik scooter. Alhasil Papa jadi mengantar saya ke sebuah konser yang tidak begitu ramai di mana band itu pernah saya lihat live dua kali sebelumnya. Sementara itu, Papa menunggu sambil duduk di salah satu sofa di bar. Sementara itu, si vokalis berkelakuan pervert dan suka-suka. Lalu saya berkenalan dengan satu perempuan dan kita berfoto bersama. Tiba-tiba seorang perempuan lain menghampiri dan bertanya, “apa kabar?” Dia bilang itu bahasa Indonesia. Lalu perempuan kenalan saya bilang, “Eh Jena orang Indonesia.” Lalu dia nampak terkejut. Saya juga. Saya lalumengajaknya bertemu Papa dan bilang, “Pa, dia bisa bahasa Indonesia.” Lalu dia bertanya pada Papa, “orang sunda?” “Bukan, orang Aceh,” jawab Papa. Lalu saya bilang, “Pa, ayo pulang.” Papa kelihatan ngantuk sekali. Saya jadi tidak enak membiarkannya menunggu. Lalu saya dan Papa keluar menuju vesva biru tua-nya. Tiba-tiba dia bilang, “Papa tahu mau memberi apa buat ulang tahunmu dan Tya minggu depan. Papa akan beli bunga. Kita akan pasang di meja makan. Papa akan pasang lilin juga. Lilin cair. Gimana?” “Yey. Kan itu harusnya kejutan,” saya jawab. Papa hanya tersenyum. Lalu saya terbangun. Dan saya menangis. Saya ingat Papa.

Di Museum Pablo Picasso

19 April 2008

museum picasso

Di Museum Pablo Picasso.
Karya yang paling menarik mata saya:
Portrait de Dora Maar, delapan pada satu dinding serta satu lagi di dinding yang lain.
Man with A Straw Hat and An Ice Cream Cone.
Empat karya Standing Nude memakai crayon.
LA CABRA atau The Goat.

Lalu kita masuk ke audiovisual room bersama. Kamu bertanya, “Kamu ingin keluar atau tetap di kamar ini?” Saya bilang, “It’s up to you.” Dan itu adalah tanda, saya sudah tidak peduli lagi. “Wow, kamu mengeluarkan kata-kata itu. Bombs.” Saya hanya tersenyum dan beranjak keluar.

The Lovers, saya ingin membakarnya.
Saya berasa seperti The Head Hunter. KILL KILL KILL.

Lukisan Pria di Perapian menarik. Tapi Two Bathers lebih-lebih lagi. Mengingatkan saya pada karya Théodore Chassériau dengan The Two Sisters dan School of Fontainebleau dengan Gabrielle d’Estrées and One of Her Sisters. Dua perempuan berpose bersama. Satu lukisan memakai baju dan lainnya bugil. Mengingatkan saya pada kita.

K i t a.
Andai kata ini memiliki bentuk lampau sendiri. Kamu. Kamu seperti karya-karya Picasso berbentuk alat musik. Menarik, kreatif, klasik, namun tidak bisa berbunyi dan dimainkan. Kamu mendekati karya Sleeping Woman.