Pikiran di Perempatan
Semua orang pikir bahwa hidup saya menyenangkan. Teman-teman bilang gaya hidup saya patut membuat iri. Saya bisa membuat 100 alasan, bahkan lebih jika memasukkan hal-hal sepele, mengapa hidup ini jauh lebih menyenangkan jika saya jadi orang lain saja. Nomor satu dan paling penting adalah: saya jatuh cinta. Saya benci jatuh cinta. Jatuh cinta itu tidak indah sama sekali. Jatuh cinta itu seperti berenang telanjang di sungai Seine pada bulan April. Bisa dipaksakan tapi lebih baik tidak dilakukan. Dan tidak perlu diperlihatkan. Jadi jangan pernah bilang kamu iri dengan saya.
Saya bilang A kamu selalu bilang B. Saya bilang B kamu jadi tidak yakin. Ada saatnya saya benar-benar harus menghindari berbicara atau bahkan memandangmu. Dan kadang saya merasa kamu juga menginginkannya. Tapi saya tidak bisa. Kamu juga tidak bisa. Karena kita sedang liburan bersama. Tiba-tiba saya menyesali hari itu. Hari di mana kita memutuskan untuk membeli tiket ke Kota Bertaburan Lampu. Hari di mana saya menyadari saya jatuh cinta. Pada orang yang salah. Kamu. Brengsek.
Eropa membuat banyak luka di badan saya. Karena terpanggang, teriris, tertusuk, terantuk. Semuanya berantakan. Saya ingin pulang.
Bagaimana bisa saya bisa mengalami hal ini? Umur saya sudah 24 tahun, sudah saatnya mengetahui dan mengerti serta bisa menghindari hal-hal bodoh seperti ini. Rasanya saya berada di lingkaran yang salah. Ada saatnya orang merasa nyaman berada di lingkarannya, tapi lama kelamaan orang-orang di lingkaran itu memaksanya keluar dan memasuki lingkaran lain. Saya ingin sekali masuk ke lingkaran lain itu. Saya punya lebih dari seratus alasan untuk berhenti memujamu. Tidak bisa sampai seribu karena kamu masih punya beberapa kualitas yang pantas dicintai. Tapi seratus, saya bisa menemukannya setiap kamu berbicara, mengomentari sesuatu, berpendapat, melihat, memandang, berekspresi, mengambil gambar. Saya bisa menemukan tiga puluh alasan ketika kamu memberikan komentar sarkasme. Saya pikir sarkasme itu lucu. Tapi tidak ketika keluar dari mulutmu. Mulut yang pernah membuat saya gila.
Kamu lagi kamu lagi. Tiap bangun pagi hal yang pertama saya lihat kalau tidak dia ya kamu. Lalu kemudian nongkrong di balkoni kamar V yang langsung menghadap Menara dan mencari cahaya matahari bersama. Mau tidak mau. Lalu ke dapur ambil cereal coklat dengan susu asem yang kamu salah beli itu. Ketemu kamu lagi sedang membuat sandwich dengan tomat, keju dan roquette. Mau tidak mau saya minum juga susu itu. Masa sembilan hari ini saya harus terus berada di sampingmu. Kamu juga pasti pikir menderita sekali harus ada di sini bersama saya. Mau tidak mau, ya kan? Nanti kalau sudah kembali ke Utara saya akan jamin bahwa kita tidak pernah ketemu lagi. Atau hanya sesekali ketika pertemuan itu sangat penting. Saya sudah berada di ambang batas pikiran menuju ‘kamu sangat tidak penting dan kadang malah nampak menjijikkan bagi saya’. Saat ini adalah perempatan antara hal tersebut dengan ‘baiklah, kamu sebenarnya saya maafkan, dan kita masih bisa jadi teman’, dengan ‘saya tahu kamu sengaja melakukan itu semua karena kamu ingin meyakinkan saya bahwa kamu adalah orang yang sangat tidak pantas untuk dicintai’ dan ‘jadi ini karaktermu sebenarnya? Saya menyesal telah menyatakan perasaan saya pada orang sepertimu yang tidak tahu diuntung’. Jadi, mana yang harus saya ambil? Mari kita lihat tiket yang saya sudah beli. Akankah ia valid sampai musim panas nanti?












