Saya mimpi. Papa dan saya mencari Tya kemana-mana sepulang dia sekolah naik scooter. Alhasil Papa jadi mengantar saya ke sebuah konser yang tidak begitu ramai di mana band itu pernah saya lihat live dua kali sebelumnya. Sementara itu, Papa menunggu sambil duduk di salah satu sofa di bar. Sementara itu, si vokalis berkelakuan pervert dan suka-suka. Lalu saya berkenalan dengan satu perempuan dan kita berfoto bersama. Tiba-tiba seorang perempuan lain menghampiri dan bertanya, “apa kabar?” Dia bilang itu bahasa Indonesia. Lalu perempuan kenalan saya bilang, “Eh Jena orang Indonesia.” Lalu dia nampak terkejut. Saya juga. Saya lalumengajaknya bertemu Papa dan bilang, “Pa, dia bisa bahasa Indonesia.” Lalu dia bertanya pada Papa, “orang sunda?” “Bukan, orang Aceh,” jawab Papa. Lalu saya bilang, “Pa, ayo pulang.” Papa kelihatan ngantuk sekali. Saya jadi tidak enak membiarkannya menunggu. Lalu saya dan Papa keluar menuju vesva biru tua-nya. Tiba-tiba dia bilang, “Papa tahu mau memberi apa buat ulang tahunmu dan Tya minggu depan. Papa akan beli bunga. Kita akan pasang di meja makan. Papa akan pasang lilin juga. Lilin cair. Gimana?” “Yey. Kan itu harusnya kejutan,” saya jawab. Papa hanya tersenyum. Lalu saya terbangun. Dan saya menangis. Saya ingat Papa.










